Teori Logotherapy Bagian 8 (Contoh Kasus dan Analisisnya) Termasuk Daftar Pustaka Materi Logotherapy



Contoh Kasus
Nita siswi SMA kelas X merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya Nila duduk di kelas XII, satu sekolah dengannya. Nita tinggal bersama ibu dan kakaknya. Sementara ayahnya, telah meninggal karena kecelakaan pesawat setahun yang lalu. Setelah kematian ayahnya, Nita menjadi anak yang pemurung dan suka menyendiri. Di sekolah, Nita sering bolos, nilai ulangan yang jelek, dan gurunya sering memergoki dirinya tidur ditengah pelajaran sedang berlangsung. Karena perilaku Nita yang seperti itu, wali kelas mengadu kepada ibu Nita. Sehingga, ibu Nita mengambil tindakan dengan mengundang guru BK Nita karena Nita enggan pergi ke ruang BK untuk berkonsultasi..
Beberapa hari kemudian guru BK, datang ke rumah Nita...
Konselor          : ”Assalamualaikum....”
Ibu                   : ”Waalaikumsalam..., Oh Ibu, silahkan masuk!  (mempersilahkan
   duduk)
Konselor          : ”Ya terimakasih”
Ibu                   :”Apa kabar ibu? Sudah lama tidak berjumpa. Maaf saya terpaksa
   mengundang ibu datang kemari karena Nita selalu menolak pergi
   ke BK untuk berkonsultasi”
Konselor          : ”Emmm... Tidak apa-apa Bu, saya juga sebenarnya
   mengharapkan Nita datang ke ruang BK, namun saya tunggu
   Nita tidak pernah datang jadi saya justru senang bila ibu
   mengundang saya. Bagaimana kabar ibu?”
Ibu                   : “Saya baik bu alhamdulillah”
   (ibu memanggil Nita dan Nila)
Konselor          : “Hai, apa kabar Nita?”
Nita                 : “Nita baik bu”
Konselor          : “kalau kakak?”
Nila                 : “Alhamdulillah baik bu”
Ibu                   : “Alhamdulillah kami semua baik bu”
Konselor          : “Baiklah, saya ucapkan terimakasih kepada Ibu, Nita serta Nila
   yang sudah mengundang saya datang kemari. Mungkin ada yang
   bisa saya bantu?”
Ibu                   : “Iya bu, tentu ada. Terutama Nita”
Konselor          : “Ada apa dengan Nita bu?”
Ibu                   : ”Saya rasa Nita baik-baik saja tetapi sejak Ayahnya meninggal
    ada sedikit perubahan pada diri Nita, Nita jadi tertutup dan
  senang menyendiri di kamarnya. Jika di sekolah, saya kurang
  mengetahui Nita bagaimana”
Konselor         : ”Apakah ibu tidak mengetahui jika Nita akhir-akhir ini tidak
   masuk ke sekolah?”
Ibu                  : ”Tidak Bu, saya malah baru mengetahui dari Ibu sekarang. Jadi
 selama ini kamu bolos? Kamu udah ngebohongin Ibu? Beban ibu
 sudah sangat banyak apalagi setelah ayahmu meninggal,tapi ibu
 selalu berusaha berani dan tegar menerima cobaan hidup. Ibu
 tegar ini untuk Nita.”(tersedu-sedu)
Nita                 : (Nita hanya menunduk diam sambil menangis)
Konselor         : “Saya mengerti apa yang ibu rasakan. Mungkin bukan hanya ibu
 saja yang merasa kehilangan ayah tetapi Nita merasakan hal itu
 juga. Bukan begitu Nita?”(konselor sambil menatap wajah Nita)
Nita                 : “Ya, sebenernya Nita juga sangat merasa kehilangan ayah. Dulu
 ayah selalu ada buat Nita sekarang tidak ada lagi yang mau
 nemenin Nita. Nita merasa hidup ini sudah tidak ada artinya. Nita
 males sekolah dan tidak ada semangat untuk belajar, karena tidak
 ada yang memberi semangat lagi seperti ayah dulu.”
Ibu                  : “Mengapa kamu mesti bolos sekolah, jika itu karena kamu merasa
 kehilangan ayahmu? Mengapa kamu tidak cerita pada Ibu tentang
 apa yang kamu rasakan, Nita?
Kakak              : “Iya Nita, mengapa kamu tidak cerita pada kakak saja?”
Nita                 : “Nita pikir tidak ada yang mau mengerti Nita. Ibu sibuk bekerja
   dan kakak juga sibuk mempersiapkan UAN. Nita memang bolos
   Bu, Nita tidak punya semangat dari ayah seperti dulu.”
Konselor         : “Baiklah, jadi yang menyebabkan Nita bolos itu karena tidak ada
  ayah lagi yang menyemangati Nita? Benar begitu? Bukankah
  semua yang kita miliki itu hanya titipan, dan semua yang
  dititipkan itu akan kembali ke asalnya, begitu juga dengan
  ayahmu.”
Ibu                   : “Maafkan ibu, mungkin selama ini ibu tidak mempunyai waktu
  untukmu Nita. Ibu sibuk bekerja karena menggantikan ayahmu
  sebagai kepala keluarga. Apabila Ibu tidak bekerja, kita tidak
  punya uang. Tapi ke depannya Ibu akan berusaha untuk
  meluangkan waktu lebih banyak untuk kalian berdua.”
Kakak              : “Nita maafkan Kakak juga. Setelah beres UAN nanti, kakak janji
    akan menyempatkan lebih banyak waktu bersama kamu lagi.”
Nita                 : “Iya... Nita juga mengerti akan hal itu.. tapi ketika ayah
  meninggal, Nita tidak sempat bertemu dengan ayah dulu. Nita
  tidak sempat mengatakan kata perpisahan. Nita juga belum
  melakukan suatu yang berarti, apalagi sekarang ayah sudah
  meninggal, Nita sudah tidak punya kesempatan lagi.”
Konselor         : “Iya Ibu mengerti penyesalan yang Nita rasakan. Apakah Nitatahu
  masih ada hal yang bisa Nita lakukan untuk ayah meskipun
  kalian sudah tidak lagi bersama.”
Nita                 :“Em... saya juga bingung apa yang harus saya lakukan”
Konselor          : “Ada tiga amalan yang tidak akan terputus ketika seseorang
  meninggal yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariah dan doa anak
  yang saleh. Apakah Nita suka mendoakan ayah?”
Nita                 : “Iya kakak dan ibu suka ngajak salat berjamaah bareng dan
    mendoakan ayah, tapi Nita selalu menolaknya.”
Konselor          : “Bagaimana perasaan kakak setelah mendoakan ayah?”
Kakak              : “Kakak merasa tenang dan ikhlas dengan kepergian ayah.
  Memang awalnya saya merasa kehilangan arah sama seperti Nita,
 tetapi saya tidak ingin larut dalam kesedihan, karena kasihan
 ayah di sana dia akan merasa berat.”
Konselor          : “Kalau dengan Ibu bagaimana?”
Ibu                   : “Saya sudah mengikhlaskan kepergian ayah sama seperti kakak,
  mengingatnya justru membuat saya semakin sedih, yang dapat
  saya lakukan sekarang adalah berdoa dan membahagiakan kedua
  anak saya.”
Konselor          : “Sekarang Nita tahu apa yang dirasakan oleh Ibu dan kakak,
  mereka juga merasa kehilangan, tetapi mereka mampu untuk
  tegar menghadapi semua ini. Setelah mengetahui ungkapan yang
  dirasakan oleh ibu dan kakak, Nita tahu apa yang dapat
  dilakukan ke depannya?”
Nita                 : “Iya Nita sadar selama ini Nita salah, mulai ke depannya Nita
  akan berusaha untuk tidak bolos lagi dan mencoba
  mengikhlaskan kepergian ayah, Nita juga akan mendoakan ayah
  agar dia tenang disana. Nita tidak ingin membebani ibu dan kakak lagi.”
Konselor          : “Akhirnya semua sudah menyadari bahwa kehidupan dunia ini
  tidaklah kekal, mudah-mudahan dengan pertemuan ini kita bisa
  menemukan makna hidup ini.”

Analisis Contoh Kasus
Ilustrasi kasus di atas sedang menggambarkan seorang anak remaja bernama Nita yang semenjak kepergian ayahnya setahun lalu akibat kecelakaan, Nita menjadi anak yang pemurung, cenderung menarik diri dari lingkungannya baik di sekolah maupun di rumah. Bahkan Nita juga kerap membolos sekolah tanpa diketahui oleh ibunya. Saat melakukan konsultasi, Nita mengaku bahwa semenjak kepergian sang ayah Ia seperti kehilangan arah karena tidak ada lagi semangat yang biasa diberikan sang ayah pada dirinya. Dengan menggunakan Logoterapi, Nita yang merasa kehilangan “arah”, konselor menuntun Nita untuk membuka jalan fikirannya, melihat pada kenyataaan, berorientasi pada masa depan, dan lebih mampu memaknai sesuatu dalam hal ini memaknai kepergian ayahnya. Konselor membuka jalan pikiran Nita dengan cara menyadarkan bahwa saat ini yang Nita lakukan untuk meratapi kepergian ayahnya dengan cara yang negatif merupakan hal yang salah. Konselor menuntun Nita agar lebih mampu memaknai kepergian ayahnya dengan cara yang positif yakni dengan mendoakan ayahnya dan tidak terus menerus meratapi kepergian ayahnya.
            Penerapan logoterapi dalam konseling di atas merupakan hal yang sangat tepat dalam menghadapi karakteristik permasalahan pada subjek yang kurang memiliki makna atau arti dalam kehidupanya. Seperti dalam penelitianya Wibowo tentang “penerapan konseling individu dengan teknik logoterapi untuk menurunka nself defeating pada siswa sekolah menengah atas” di peroleh hasil berdasarkan analisis individual dapat menunjukkan munculnya pemaknaan diri setelah dilakukan konseling yang dialami oleh 5 siswa yang mengalami kecemasan komunikasi, artinyahalinimenunjukkan bahwa konseling Logoterapi dapat menurunkan kecenderungan perilaku mengalahkan diri (Self Defeating) pada siswa sekolah menengah pertama dan sederajat. Selain itu hal senada terdapat dalam penelitianya Vera Ukus dkk tentang “pengaruh penerapan logoterapi terhadap kebermaknaan hidup pada lansia di badan penyantunan lanjut usia senjah cerah panik bawah manado” di peroleh hasil 0,005 (P value ≤ 0,05) dengan nilai kemaknaan α = 0,05 maka penelitian ini menunjukan adanya pengaruh penerapan logoterapi terhadap kebermaknaan hidup pada lansia. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pengaruh logoterapipada lansia dapat meningkatkan kebermaknaaan hidup lansia.


DAFTAR PUSTAKA

Ancok, P. D. (2006). Logoterapi (Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Baihaqi, M. (2008). Psikologi Pertumbuhan (Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan (Model-Model Kepribadian Sehat). Yogyakarta: Kanisius.
Hana Himi, P. (Vol. 5 No. 4 2015). Logotherapy-Theretical Aspects And Field Studies In Israel. International Journal of Humanities And SociaL .